World Health Organization (WHO) merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, bayi mulai mendapat makanan pendamping yang aman dan bergizi sambil tetap disusui hingga usia dua tahun atau lebih. Karena itu, setiap upaya meningkatkan produksi ASI idealnya tetap berpusat pada kebutuhan ibu dan bayi, bukan hanya pada satu makanan atau suplemen.
Nama Sauropus androgynus masih sangat sering dipakai dalam jurnal kesehatan dan produk herbal. Dalam basis data botani Plants of the World Online milik Royal Botanic Gardens, Kew, nama yang diterima saat ini adalah Phyllanthus androgynus. Keduanya merujuk pada tanaman katuk yang sama.
Mengapa Daun Katuk Disebut ASI Booster?
Istilah ASI booster biasanya dipakai untuk makanan, minuman, herbal, atau kebiasaan yang dianggap dapat membantu produksi ASI. Dalam istilah ilmiah, bahan yang digunakan untuk merangsang laktasi disebut galaktagog.
Produksi ASI melibatkan banyak faktor. Hormon prolaktin berperan dalam pembentukan ASI, sedangkan oksitosin membantu refleks pengeluaran ASI. Namun, kadar hormon bukan satu-satunya penentu. Setelah proses laktasi terbentuk, payudara yang dikosongkan secara teratur dan efektif memberi sinyal kepada tubuh untuk terus memproduksi ASI. Karena itu, menyusui atau memerah lebih sering biasanya lebih penting daripada sekadar menambah satu jenis makanan.
Daun katuk mengandung provitamin A karotenoid, vitamin C dan E, sejumlah mineral, polifenol, serta flavonoid seperti quercetin dan kaempferol. Penelitian pada hewan menemukan perubahan ekspresi gen yang berkaitan dengan prolaktin dan oksitosin setelah pemberian ekstrak daun katuk. Temuan ini memberi petunjuk tentang mekanisme yang mungkin terjadi, tetapi hasil pada hewan tidak otomatis membuktikan efek yang sama pada ibu menyusui.
Manfaat Daun Katuk untuk Ibu Menyusui
Beberapa penelitian di Indonesia melaporkan peningkatan ukuran produksi ASI setelah pemberian ekstrak, biskuit, minuman campuran, atau rebusan daun katuk. Hasil tersebut menjadikan daun katuk menarik sebagai bahan pendamping laktasi. Meskipun demikian, bentuk sediaan, dosis, durasi, dan cara mengukur produksi ASI berbeda-beda, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk semua ibu.
Sebagai sayuran hijau, daun katuk dapat menjadi bagian dari menu yang beragam dan seimbang. Kandungan vitamin, mineral, karotenoid, dan senyawa tumbuhan di dalamnya dapat membantu melengkapi asupan harian ibu. Manfaat ini berbeda dari klaim bahwa satu jenis makanan dapat langsung menentukan jumlah atau kualitas ASI.
Katuk relatif akrab dalam masakan Indonesia dan dapat diolah bersama sumber protein, karbohidrat, serta sayuran lain. Pendekatan berbasis makanan cenderung lebih mudah dipertahankan daripada bergantung pada satu produk dengan dosis tinggi.
Bukti yang ada dapat disebut menjanjikan, tetapi belum cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa daun katuk pasti efektif bagi setiap ibu. Berikut gambaran yang lebih proporsional.
- Studi manusia yang dirangkum LactMed. Sebanyak 96 ibu sehat dibagi menjadi kelompok yang mendapat tablet daun katuk 300 mg tiga kali sehari selama 15 hari dan kelompok pembanding yang hanya mendapat suplemen vitamin-mineral. Kelompok katuk menghasilkan rata-rata 264 mL ASI dibandingkan 198 mL pada kelompok pembanding saat pengukuran dilakukan. Tidak ditemukan perbedaan bermakna pada kadar lemak atau protein ASI. Namun, penelitian tidak menggunakan plasebo sejati, tidak dibutakan, dan perlakuan kedua kelompok tidak sepenuhnya setara.
- Studi rebusan daun katuk tahun 2025. Penelitian quasi-experimental pada 88 responden melaporkan kenaikan skor produksi ASI setelah konsumsi 200 mL air rebusan dua kali sehari selama tujuh hari. Hasilnya menarik, tetapi penggunaan purposive sampling, tidak adanya plasebo dan pembutaan, serta pelaporan hasil dalam skor yang kurang dijelaskan membuat kesimpulannya perlu ditafsirkan hati-hati. Dosis penelitian bukan otomatis dosis anjuran untuk penggunaan mandiri.
- Studi pada hewan. Penelitian pada mencit menunjukkan ekstrak daun katuk dapat memengaruhi ekspresi gen prolaktin dan oksitosin. Bukti ini membantu menjelaskan hipotesis mekanisme, tetapi tidak dapat menggantikan uji klinis manusia yang dirancang dengan baik.
Belum ada satu dosis konsumsi daun katuk yang terbukti paling efektif dan aman untuk semua ibu menyusui. Bentuk sayur, rebusan, kapsul, dan ekstrak memiliki konsentrasi yang berbeda, sehingga dosis dari suatu penelitian tidak boleh langsung dijadikan resep pribadi.
- Utamakan daun katuk yang dimasak sebagai bagian dari menu seimbang dan konsumsi dalam porsi makanan yang wajar.
- Variasikan lauk, sayur, buah, dan sumber energi; jangan menjadikan daun katuk sebagai satu-satunya andalan untuk menaikkan ASI.
- Hindari konsumsi daun katuk mentah, jus mentah, atau konsentrat dalam jumlah berlebihan. LactMed mencatat konsumsi daun segar berlebihan pernah dikaitkan dengan bronkiolitis obliterans, penyakit paru serius yang dapat berakibat fatal.
- Jangan menganggap semua suplemen daun katuk setara. Kandungan, konsentrasi, mutu, dan kombinasi bahan dapat berbeda antarproduk.
- Jika ingin memakai ekstrak atau suplemen, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter, bidan, apoteker, ahli gizi, atau konselor laktasi, terutama bila memiliki penyakit hati atau paru, alergi, atau sedang menggunakan obat tertentu.
- Hentikan penggunaan dan cari pertolongan medis bila muncul sesak napas, batuk yang tidak biasa, reaksi alergi, nyeri perut berat, urine gelap, atau kulit dan mata tampak menguning.
LactMed juga mencatat kenaikan enzim hati pada sekitar 3-5% perempuan dalam satu penelitian. Informasi ini tidak berarti daun katuk pasti berbahaya bila dimakan sebagai sayur, tetapi cukup menjadi alasan untuk menghindari konsumsi berlebihan atau sediaan pekat tanpa pendampingan.
Daun katuk sebagai ASI booster akan lebih masuk akal bila ditempatkan sebagai pelengkap. Dasar utama pengelolaan ASI tetaplah memastikan bahwa ASI dikeluarkan secara cukup sering dan efektif.
- Susui bayi sesuai tanda lapar. Pada bulan-bulan awal, banyak bayi menyusu sekitar 8-12 kali dalam 24 jam, termasuk malam hari.
- Periksa pelekatan dan posisi. Pelekatan yang kurang dalam dapat membuat transfer ASI tidak efektif sekaligus menimbulkan nyeri pada ibu.
- Kosongkan payudara secara efektif. Jika bayi belum dapat menyusu langsung atau ibu terpisah dari bayi, pemerahan dapat membantu mempertahankan stimulasi.
- Lakukan kontak kulit ke kulit bila memungkinkan untuk membantu kenyamanan, respons menyusu, dan refleks pengeluaran ASI.
- Penuhi kebutuhan makan, cairan, dan istirahat secara realistis. Minum sesuai rasa haus dan pilih menu beragam; minum berlebihan tidak otomatis membuat ASI lebih banyak.
- Minta dukungan keluarga agar ibu memiliki waktu makan, tidur, dan menyusui yang lebih tenang.
- Pantau bayi, bukan hanya hasil pompa. Pertambahan berat badan, pola buang air kecil dan besar sesuai usia, serta kondisi klinis bayi lebih bermakna daripada satu kali volume perah.
Segera hubungi dokter anak, bidan, atau konselor laktasi bila bayi sulit dibangunkan untuk menyusu, tampak lemas, menunjukkan tanda dehidrasi, jumlah popok basah berkurang dari yang diharapkan sesuai usia, berat badan tidak naik, atau ibu mengalami nyeri hebat, demam, dan masalah payudara. Konsultasi juga diperlukan bila produksi ASI tetap terasa kurang meskipun frekuensi menyusu dan pelekatan sudah diperbaiki.
Tenaga kesehatan dapat menilai apakah masalah berasal dari transfer ASI, jadwal menyusu, kondisi mulut bayi, efek obat, gangguan hormon, riwayat operasi payudara, perdarahan pascapersalinan, atau faktor medis lain. Pemeriksaan penyebab memberi hasil yang lebih tepat daripada sekadar menambah ASI booster.
Daun katuk sebagai ASI booster memiliki dasar penggunaan tradisional dan beberapa penelitian yang menunjukkan potensi manfaat. Daunnya juga mengandung zat gizi dan senyawa bioaktif yang dapat melengkapi pola makan ibu menyusui. Namun, kualitas bukti klinis masih terbatas, efeknya tidak selalu sama, dan belum ada dosis universal yang dapat direkomendasikan untuk semua orang.
Pilihan yang lebih bijak adalah menikmati daun katuk matang dalam porsi makanan yang wajar, menghindari konsumsi mentah atau konsentrat berlebihan, dan tetap memprioritaskan menyusui responsif, pelekatan yang baik, serta pengosongan payudara yang efektif. Bila ada tanda bayi tidak mendapat cukup ASI, jangan menunggu efek herbal – segera cari bantuan tenaga kesehatan.


