Cilacap — PT Genta Niaga Wijaya (GNW) menerima kunjungan Staf Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Jhon Milion, dalam rangka diskusi mengenai potensi pengembangan dan pemberdayaan ekosistem komoditas pangan, khususnya susu kambing, rempah, dan kopi.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kunjungan ke sejumlah entitas usaha yang tergabung dalam Perkumpulan Pelaku Jamu Alami Indonesia (PPJAI). Selain GNW, rangkaian kunjungan juga mencakup sejumlah pelaku usaha anggota PPJAI, antara lain PT Tresno Jamu Indonesia, CV GP Mandiri, dan PT Lestari Jaya.
Dalam kunjungannya ke GNW, Jhon Milion berdiskusi bersama jajaran GNW mengenai kondisi dan perkembangan industri herbal serta peluang penguatan keterhubungan antara sektor hulu, pengolahan, hingga pasar.
Pembahasan tersebut turut melihat bagaimana komoditas lokal seperti rempah dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui pengolahan, inovasi produk, penguatan standar mutu, serta perluasan akses pasar.
Kunjungan ini juga berlangsung di tengah perhatian pemerintah terhadap penguatan industri berbasis komoditas lokal. Kemenko Pangan sebelumnya menyampaikan pentingnya pengembangan ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, termasuk melalui peningkatan produktivitas, pengolahan, standardisasi, branding, edukasi konsumen, serta perluasan akses pasar.
Melihat Potensi Kolaborasi Hulu-Hilir
Bagi GNW, pengembangan komoditas susu kambing, rempah, dan kopi memiliki keterkaitan erat dengan upaya membangun ekosistem industri yang melibatkan berbagai pelaku usaha, mulai dari produsen bahan baku, manufaktur, pemilik merek, hingga jaringan pemasaran.
Direktur GNW sekaligus Ketua Umum PPJAI, Heri Susanto, menyampaikan bahwa penguatan industri berbasis komoditas lokal membutuhkan keterhubungan antaraktor agar potensi bahan baku di daerah dapat berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kami melihat bahwa kekuatan industri herbal dan pangan lokal tidak hanya berada pada bahan bakunya, tetapi pada bagaimana seluruh ekosistemnya dapat saling terhubung. Mulai dari petani dan peternak, pengolahan, manufaktur, inovasi produk, sampai akses pasar. Karena itu, ruang dialog seperti ini penting untuk mempertemukan kebutuhan pemerintah dengan kondisi nyata yang dihadapi pelaku usaha.”
Menurut Heri, kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri diperlukan untuk menciptakan ekosistem usaha yang lebih terintegrasi sekaligus membuka peluang pertumbuhan bagi pelaku usaha di daerah.
Sementara itu, Jhon Milion dalam diskusi tersebut menyampaikan bahwa potensi komoditas lokal perlu dilihat tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari peluang pengembangannya menjadi produk hilir yang mampu menciptakan nilai tambah.
“Potensi susu kambing, rempah, dan kopi cukup besar karena ketiganya memiliki basis komoditas dan pelaku usaha yang sudah berkembang di berbagai daerah. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dihubungkan dengan pengolahan, pasar, teknologi, dan penguatan kapasitas pelaku usaha sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas.”
Ia juga menilai bahwa keterlibatan pelaku industri dan asosiasi menjadi penting dalam memberikan gambaran mengenai kebutuhan serta tantangan yang dihadapi di lapangan.
GNW Dorong Penguatan Ekosistem Industri Lokal
Sebagai perusahaan yang bergerak dalam pengembangan dan fasilitasi industri manufaktur herbal, GNW memandang penguatan ekosistem sebagai salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan industri herbal lokal.
Pertemuan dengan Staf Kemenko Pangan tersebut menjadi ruang untuk bertukar informasi mengenai perkembangan industri, potensi komoditas lokal, serta peluang sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha.
Melalui PPJAI, GNW juga terus mendorong terbentuknya jejaring antar-pelaku usaha jamu dan herbal agar potensi industri di berbagai daerah dapat dikembangkan secara lebih terintegrasi.
Kunjungan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari komunikasi berkelanjutan antara pemerintah, asosiasi, dan dunia usaha dalam mengidentifikasi potensi, tantangan, serta peluang pengembangan industri berbasis komoditas lokal Indonesia.


