Angkak merupakan salah satu bahan herbal yang dikenal sebagai beras hasil fermentasi kapang Monascus. Dalam penggunaan tradisional, angkak dipercaya dapat membantu meningkatkan jumlah trombosit, sehingga banyak dibicarakan dalam kaitannya dengan demam berdarah dengue (DBD).
Beberapa penelitian yang dibahas dalam sumber menunjukkan adanya potensi angkak dalam membantu meningkatkan jumlah trombosit pada kondisi yang berkaitan dengan dengue. Namun, angkak tetap perlu dipahami sebagai pendukung terapi, bukan pengganti penanganan medis pada pasien DBD.
Apa Itu Angkak?
Angkak atau beras ragi merah adalah beras yang difermentasi menggunakan kapang dari genus Monascus, terutama Monascus purpureus.
Proses fermentasi tersebut menghasilkan sejumlah senyawa yang disebut dalam sumber, antara lain:
- Monacolin K
- Monascin
- Ankaflavin
- Pigmen Monascus
- Senyawa fenolik
Secara tradisional, angkak dipercaya memiliki manfaat dalam membantu meningkatkan jumlah trombosit. Potensi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan angkak banyak diteliti dalam kaitannya dengan kondisi dengue.
Apa Hubungan Angkak dengan DBD?
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Aedes aegypti merupakan salah satu vektor utama penularan dengue.
Salah satu tanda yang sering ditemukan pada pasien DBD adalah trombositopenia, yaitu kondisi ketika jumlah trombosit dalam darah mengalami penurunan. Dalam sumber yang digunakan, jumlah trombosit pada kondisi tersebut dapat turun hingga di bawah 100.000/mm³.
Kondisi ini menjadi perhatian karena penurunan jumlah dan gangguan fungsi trombosit dapat berkaitan dengan risiko perdarahan pada DBD.
Di sinilah angkak mulai banyak diperhatikan. Sejumlah penelitian yang dicantumkan dalam sumber menunjukkan bahwa pemberian angkak memiliki potensi membantu meningkatkan jumlah trombosit.
Bagaimana Angkak Berpotensi Membantu Meningkatkan Trombosit?
Berdasarkan penelitian yang dirangkum dalam sumber, efek angkak terhadap trombosit diduga berkaitan dengan kemampuannya dalam meredakan proses peradangan sekaligus mendukung proses produksi trombosit.
Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa pemberian air rebusan beras merah atau angkak pada dosis tertentu dapat membantu memulihkan jumlah trombosit yang mengalami penurunan akibat induksi kloramfenikol.
Penelitian lain menggunakan tikus Wistar yang terinfeksi virus dengue serotipe 3. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tikus yang diberikan beras Monascus jmbA mengalami peningkatan jumlah trombosit dibandingkan tikus yang hanya mengalami infeksi dengue.
Efek tersebut diduga berkaitan dengan perubahan kadar beberapa zat yang berperan dalam proses peradangan, termasuk TNF-α dan IL-6.
Apa Kata Penelitian tentang Angkak dan Trombosit?
Selain penelitian pada hewan, sumber juga mencantumkan penelitian klinis yang dilakukan di Puskesmas Kandangan dan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.
Penelitian tersebut membandingkan jumlah trombosit pasien DBD sebelum dan setelah konsumsi angkak. Data yang dicantumkan menunjukkan rata-rata jumlah trombosit:
Sebelum konsumsi angkak:
81.200 ± 13.320,705
Setelah konsumsi angkak:
170.000 ± 33.260,509
Penelitian tersebut juga mencantumkan nilai p-value sebesar 0,000 dengan nilai t-hitung 15,004, yang menunjukkan adanya perbedaan secara statistik antara kondisi sebelum dan setelah konsumsi angkak dalam penelitian tersebut.
Dalam uraian sumber, penelitian di Puskesmas Kandangan dan Ngadiluwih menyimpulkan bahwa konsumsi angkak efektif membantu meningkatkan trombosit pada pasien DBD dan peningkatannya lebih cepat dibandingkan kondisi sebelum konsumsi angkak.
Meski demikian, hasil tersebut sebaiknya dipahami sesuai konteks penelitian yang dilakukan. Angkak tidak dapat dianggap sebagai pengganti terapi atau penanganan medis untuk DBD.
Apakah Angkak Bisa Menggantikan Pengobatan DBD?
Berdasarkan sumber yang digunakan, angkak berpotensi membantu meningkatkan trombosit pada penderita DBD, tetapi penggunaannya tetap ditempatkan sebagai pendukung terapi dan bukan pengganti standar penanganan medis.
DBD merupakan kondisi yang dapat berkembang menjadi komplikasi serius. Penurunan trombosit dan gangguan terkait DBD dapat meningkatkan risiko perdarahan dan dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan syok.
Karena itu, pasien yang mengalami gejala atau telah didiagnosis DBD tetap membutuhkan pemantauan dan penanganan tenaga kesehatan.
Angkak atau beras ragi merah merupakan bahan hasil fermentasi kapang Monascus yang mengandung berbagai senyawa aktif. Dalam konteks DBD, sejumlah penelitian yang dirangkum menunjukkan potensi angkak dalam membantu meningkatkan jumlah trombosit.
Penelitian klinis yang dicantumkan dalam sumber menunjukkan adanya peningkatan jumlah trombosit setelah konsumsi angkak pada pasien DBD. Penelitian pada hewan juga menunjukkan potensi serupa dan mengaitkannya dengan mekanisme yang berhubungan dengan proses peradangan.
Namun, angkak tetap merupakan pendukung terapi, bukan pengganti penanganan medis. DBD dapat menimbulkan komplikasi serius sehingga kondisi pasien perlu dipantau dan ditangani oleh tenaga kesehatan.


